Bantul – Letkol Inf Muhidin, S.H. M.I.P, Dandim 0729 /Bantul didampingi Mayor Cba Suryadi, Kasdim 0729 Bantul dan Rektor Universitas Mercu Buana silaturahmi dengan keluarga Bapak Soeharto di Museum Soeharto. Museum ini terletak di Jl. Nulis – Puluhan, Dusun Kemusuk, Ds. Argomulyo, Kec. Sedayu, Argomulyo, Sedayu, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta Kode POS 55752, Indonesia. Dibangun di atas lahan seluas 3.620 meter persegi, memiliki lapangan parkir yang luas dengan kapasitas sekitar 10 bus besar. Di halaman museum berdiri patung Soeharto yang cukup besar. (Kamis, 04/04).
Memorial ini dibangun oleh Bapak H. Probosutedjo, adik kandung Jenderal Besar H.M Soeharto untuk mengenang jasa dan pengabdian, serta penghargaan terhadap prestasi dan keberhasilan yang telah menghantarkan Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat. Diresmikan pada tanggal 8 Juni 20 lalu oleh keluarga Soeharto. Di dalam memorial ini, terdapat sebuah bangunan joglo besar di pusat lokasi, rumah kakek buyut Pak Harto yaitu Notosudiro. Terdapat juga barang-barang peninggalan, diorama sejarah kehidupan Pak Harto, dokumen arsip nasional, video, dan beberapa foto yang berkaitan dengan sejarah Pak Harto.
Para pengunjung yang pertama adalah akan di sajikan pemutaran video Soeharto sekitar 15 menit. Dari video itu digambarkan sosok Soeharto yang lahir di Kemusuk, sampai kemudian berperan di peristiwa 1965, menjadi presiden, dan melakukan pembangunan, hingga kemudian meninggal dunia. Disajikan juga foto-foto Pak Harto yang dekat dengan rakyat, pembangunan pertanian, dan lainnya termasuk berisi foto-foto kesuksesan Soeharto.
Serangan umum pada tanggal 1 Maret 1949 di Yogyakarta siapa orang yang tidak mengingat tanggal ini, sebagai tonggak perjuangan bangsa terlepas dari penjajahan Belanda. Soeharto sebagai salah satu tokoh yang menjadi kunci setelah sang inisiator Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Jenderal Besar Soedirman yang merancang dan melaksanakan serangan umum ini sebagai sejarah yang tidak terbantahkan.
Semua orang menunjuk kepada para inisiator yang mulai terlupakan dan bahkan beberapa buku sejarah kekinian peran pelaku sejarah cenderung dikecilkan dalam khazanah sejarah perjuangan bangsa yang ditulis kekinian dengan fakta yang digali terbaru secara up to date.
Museum Soeharto ada di desa tempat kelahiran sang tokoh tampaknya menjadi saksi perjalanan lahir dan keadaan suasana desa Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul. Isi Museum yang mencoba menampilkan secara jernih tempat kelahiran Soeharto dan juga bagaimana kisah menjadi seorang prajurit dan puncaknya menjadi presiden kedua negeri ini.
Tempat berdirinya Museum Soeharto di desa Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul ini mempunyai kisah sebagai tempat kelahiran Soeharto 9 Juni 1921. Mengapa museum ini di bangun di desa Kemusuk sebab dusun yang terletak di desa/kelurahan Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai sejarah tersendiri bagi pak Harto.Sebagai tempat kelahiran Soeharto dijadikan sebagai museum untuk mengenang bahwa ada tokoh besar dari negeri ini yang pernah lahir di dusun Kemusuk ini.
Soeharto lahir dari seorang ibu bernama Sukirah dan ayah bernama Kertosudiro di dusun Kemusuk Argomulyo, Sedayu, Bantul yang sekarang dijadikan sebagai Museum Soeharto sebagai saksi sejarah benar adanya ketika Bapak dari pak Harto juga turut meninggal ditembak Belanda ketika mereka mencari keberadaan Soeharto di dusun Kemusuk ini. Bahkan banyak banyak pemuda dan lelaki dewasa yang meninggal dalam penyisiran yang dilakukan Belanda hingga menewaskan lebih dari 202 masyarakat sipil di dusun ini.
Monumen Setu legi dan makam Somenggalan adalah bukti nyata bahwa Soeharto kala itu dicari dalam dua periode setelah penyerangan kantor pos besar 29 Desember 1948 dengan pasukannya dan setelah serangan umum 1 Maret 1949. Sebenarnya inilah bukti betapa ‘berbahayanya” Soeharto kala itu dan sampai di cari di tempat kelahirannya di musuk yang menjadikan “Kemusuk Berdarah”. (krjogja.com)


