{"id":11488,"date":"2026-03-14T08:27:35","date_gmt":"2026-03-14T08:27:35","guid":{"rendered":"https:\/\/kodim0729.tni-ad.mil.id\/?p=11488"},"modified":"2026-03-14T08:27:35","modified_gmt":"2026-03-14T08:27:35","slug":"kini-tak-perlu-lagi-memutar-kesaksian-warga-di-balik-hadirnya-jembatan-sungai-tuntang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kodim0729.tni-ad.mil.id\/?p=11488","title":{"rendered":"Kini Tak Perlu Lagi Memutar\u201d: Kesaksian Warga di Balik Hadirnya Jembatan Sungai Tuntang"},"content":{"rendered":"\n<p>\u201c<\/p>\n\n\n\n<p>Grobogan-Pagi itu, suasana di tepian Sungai Tuntang, Desa Ngombak, Kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobogan, terasa berbeda. Warga dari Desa Ngombak dan Desa Kentengsari berkumpul menyaksikan sebuah momen yang telah lama mereka tunggu. Di hadapan mereka kini berdiri sebuah jembatan gantung yang kokoh, membentang di atas aliran Sungai Tuntang yang selama ini memisahkan kehidupan dua desa.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"619\" height=\"489\" src=\"https:\/\/kodim0729.tni-ad.mil.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/1001263094.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-11490\" srcset=\"https:\/\/kodim0729.tni-ad.mil.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/1001263094.jpg 619w, https:\/\/kodim0729.tni-ad.mil.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/1001263094-300x237.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 619px) 100vw, 619px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Bagi sebagian orang, jembatan sepanjang sekitar 80 meter itu mungkin hanya terlihat sebagai sarana penghubung biasa. Namun bagi warga di dua desa tersebut, jembatan itu adalah jawaban atas penantian panjang yang telah berlangsung puluhan tahun.<\/p>\n\n\n\n<p>Sekretaris Desa Kentengsari, Wartoyo, mengaku masih sulit menyembunyikan rasa harunya ketika melihat jembatan itu akhirnya berdiri. Selama ini, Sungai Tuntang menjadi penghalang utama mobilitas warga, terutama ketika musim hujan tiba.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTerima kasih telah dibangun jembatan ini. Warga sudah berpuluh-puluh tahun menunggu adanya jembatan ini,\u201d kata Wartoyo dengan nada penuh syukur.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia mengenang bagaimana dahulu masyarakat harus berjuang untuk sekadar menyeberangi sungai. Warga pernah membuat rakit sederhana yang ditarik secara manual menggunakan tali dari dua sisi sungai. Namun cara itu tetap penuh risiko dan tidak selalu bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebelumnya warga pernah memakai rakit yang ditarik manual untuk menyeberangi. Apabila arus sungai deras, rakit tidak bisa dipakai. Sekarang dengan adanya jembatan ini akses warga jadi jauh lebih mudah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSemoga bisa bermanfaat untuk masyarakat sekitar sini,\u201d ungkap Wartoyo.<\/p>\n\n\n\n<p>Cerita serupa disampaikan Daryanto warga Kentengsari, salah seorang warga yang telah lama tinggal di kawasan tersebut. Ia menuturkan bahwa sebelum jembatan dibangun, wilayah itu seperti terisolasi oleh Sungai Tuntang.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSudah berpuluh-puluh tahun daerah ini seperti terisolir. Dulu ada perahu penyeberangan manual, tapi sudah hanyut terbawa arus,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Akibat tidak adanya jembatan, warga yang ingin menuju Desa Ngombak atau sebaliknya harus memutar jauh melalui Kecamatan Kedungjati. Perjalanan yang sebenarnya dekat itu berubah menjadi rute panjang yang melelahkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Daryanto mengungkapkan bila lewat Kedungjati jaraknya bisa sampai sekitar 12 kilometer. Perjalanan bisa 20 menit lebih hanya untuk sampai ke Ngombak. Kini bisa ditempuh hanya sekitar 5 menit.<\/p>\n\n\n\n<p>Kondisi tersebut juga dirasakan oleh anak-anak sekolah. Setiap hari mereka harus menempuh perjalanan lebih jauh karena tidak adanya jalur langsung yang menghubungkan dua desa.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSekarang anak-anak sekolah bisa lewat sini, tidak perlu mutar jauh lagi ke Kedungjati,\u201d lanjutnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Keberadaan jembatan tersebut kini menjadi harapan baru bagi masyarakat. Selain memudahkan akses pendidikan, jembatan juga mempercepat aktivitas para petani yang selama ini harus memutar jauh untuk menuju lahan pertanian mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Program pembangunan jembatan ini merupakan bagian dari Program Jembatan Garuda yang digagas TNI Angkatan Darat untuk membantu membuka akses wilayah yang terisolasi. Di wilayah Kodam IV\/Diponegoro, program tersebut diwujudkan melalui pembangunan 39 jembatan yang tersebar di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari jumlah tersebut, 13 jembatan telah selesai dibangun, sementara 26 jembatan lainnya masih dalam proses pengerjaan oleh prajurit TNI bersama masyarakat. Pembangunan jembatan tersebut terdiri dari 20 jembatan Armco, 17 jembatan gantung, serta dua jembatan Bailey di berbagai wilayah Kodim jajaran Kodam IV\/Diponegoro.<\/p>\n\n\n\n<p>Launching program pembangunan Jembatan Garuda dilaksanakan secara serentak oleh Kasad di berbagai daerah. Di wilayah Kodam IV\/Diponegoro, kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Pangdam IV\/Diponegoro Mayjen TNI Achiruddin, S.E., M.Han. dari lokasi Jembatan Gantung Sungai Tuntang di Desa Ngombak.<\/p>\n\n\n\n<p>Kini, jembatan yang menghubungkan Desa Ngombak dan Desa Kentengsari itu tidak hanya memperpendek jarak, tetapi juga membuka peluang baru bagi kehidupan masyarakat. Sedikitnya 1.073 kepala keluarga atau sekitar 6.418 jiwa kini merasakan manfaat dari hadirnya akses penghubung tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi warga, jembatan itu bukan sekadar bangunan yang melintang di atas sungai. Ia adalah jalan baru menuju sekolah, ladang, pasar, dan masa depan yang lebih baik\u2014sebuah penghubung harapan yang akhirnya hadir setelah penantian panjang selama puluhan tahun. (Pendam IV\/Diponegoro)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201c Grobogan-Pagi itu, suasana di tepian Sungai Tuntang, Desa Ngombak, Kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobogan, terasa berbeda. Warga dari Desa Ngombak dan Desa Kentengsari berkumpul menyaksikan sebuah momen yang telah lama mereka tunggu. Di hadapan mereka kini berdiri sebuah jembatan gantung yang kokoh, membentang di atas aliran Sungai Tuntang yang selama ini memisahkan kehidupan dua desa.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11489,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-11488","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pembinaan-satuan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kodim0729.tni-ad.mil.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11488","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kodim0729.tni-ad.mil.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kodim0729.tni-ad.mil.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kodim0729.tni-ad.mil.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kodim0729.tni-ad.mil.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=11488"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/kodim0729.tni-ad.mil.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11488\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11491,"href":"https:\/\/kodim0729.tni-ad.mil.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11488\/revisions\/11491"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kodim0729.tni-ad.mil.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/11489"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kodim0729.tni-ad.mil.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=11488"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kodim0729.tni-ad.mil.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=11488"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kodim0729.tni-ad.mil.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=11488"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}